Hari Tani Nasional di Depan Mata

Peringatan Hari Tani Nasional sebentar lagi, tapi kita malah dapat kabar menyedihkan, duh, duh! Tau nggak kabar apa? Jadi, nih, Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyebut bahwa ada ancaman kelangkaan pangan di masa pandemi yang nggak tau kapan akan berakhir. Jadi, setiap negara diminta untuk bersiap-siap, atau usaha cari cara supaya nggak mengalami kemalangan tersebut. Termasuk Indonesia yang sedang berupaya menghindari risiko kelangkaan pangan dengan menjaga stok pangan serta kelancaran distribusi. Tapi untuk bisa mewujudkan hal tersebut, kondisi petani kita harus diperhatikan lebih dulu karena mereka adalah aktor utamanya. Bagaimana kondisi mereka melewati masa pandemi ini? Apa saja dampak yang mereka hadapi? Nah, untuk tau jawabannya, CROWDE punya ulasan di bawah ini. Simak, yuk!     

Petani tetap harus bekerja

Crowde – Di tengah masa pandemi yang menganjurkan kita untuk tetap berada di rumah, hal tersebut tidak berlaku bagi petani. Bahkan, presiden kita, Bapak Jokowi meminta profesi petani untuk tetap bekerja di masa pandemi, memanfaatkan sisa musim hujan di bulan April. Petani diminta untuk tetap menanam tanaman pangan karena khawatir akan ada kekeringan panjang di akhir tahun dan berisiko menyebabkan kurangnya pasokan pangan. Tanpa disuruh pun, hakikatnya petani kita tetap harus bekerja karena banyak dari mereka yang bergantung pada upah harian. Yang berarti, jika tidak bekerja, mereka tidak bisa mendapat penghasilan. Masa pandemi menjadi bukti bahwa petani kita sangat berani mengambil risiko dengan tetap bekerja hanya agar masyarakat Indonesia nggak kesulitan makan. Sudah seharusnya kita beri mereka dukungan sebagai bentuk apresiasi atas pengorbanan yang telah dilakukan.

Petani hadapi harga pangan yang fluktuatif

Crowde – Meski masyarakat juga menjerit sebab harga pangan yang terus naik-turun, petani justru lebih menderita. Para petani kita masih terus mengeluh soal harga bahan pangan yang fluktuatif. Kinerja produksi dan distribusi hasil panen juga terganggu akibat pandemi, sehingga terjadi kesenjangan harga bahan pangan di beberapa daerah. Penerapan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) membatasi akses transportasi dan mobilitas lainnya. Akibatnya, proses distribusi stok pangan ke berbagai daerah di Indonesia jadi terhambat. 

Petani yang kesulitan melakukan distribusi ke daerah-daerah lain hanya bisa memasarkan produknya di pasar lokal. Padahal, fluktuasi harga jadi semakin parah bila hasil panen petani kita hanya dipasarkan di pasar lokal. Hal tersebut menyebabkan petani sebagai produsen utama penghasil bahan pangan kesulitan mendapat modal budidaya. Sebab, mereka baru bisa mendapat modal budidaya lagi bila mampu memasarkan seluruh produk hasil panennya. Namun, jika pendapatan petani tidak maksimal, mereka jadi kesulitan untuk kembali melakukan perputaran dana guna tetap melanjutkan budidaya bahan pangan.  – Crowde

Petani kehilangan pelanggan setia

Berbagai kebijakan yang diterapkan saat pandemi, salah satunya PSBB telah merubah pola konsumsi pangan masyarakat kita. Yang kemudian, menyebabkan turunnya daya beli terhadap bahan pangan sehingga petani kita semakin merugi. Banyaknya tempat makan dan tempat-tempat lain yang biasa membutuhkan bahan pangan sebagai bahan baku harus terpaksa tutup, hingga akhirnya mengurangi tingkat pembelian hasil produksi tani. Petani ditinggalkan pembeli setianya sehingga banyak hasil panen mereka yang tidak laku terjual dan dibiarkan busuk. Akhirnya, mereka merugi karena tidak mendapat pemasukan yang maksimal. Harga bahan pangan juga ikut turun karena stok yang melimpah, namun tidak dibarengi dengan tingginya daya beli masyarakat. Indikasi terjadinya penurunan permintaan bahan pangan terlihat dari adanya deflasi sebesar 0,13% akibat daya beli masyarakat kita yang menurun di tengah pandemi.  – Crowde

Petani kesejahteraannya terancam

Sudah jelas pandemi membawa dampak bagi seluruh sektor termasuk juga sektor pertanian. Petani yang terus diminta untuk memenuhi kebutuhan pangan kita, nyatanya tidak membuat posisi mereka diuntungkan. Terlebih diperparah oleh kondisi saat ini yang membuat kondisi petani semakin terpuruk. Harga bahan pangan yang tidak stabil, diikuti akses distribusi yang terbatas, dan diperparah oleh daya beli konsumen yang menurun, membuat mereka semakin berada di ujung tanduk. Lalu, kita bisa nggak ikut menyelamatkan mereka? Ya, cara termudahnya adalah dengan selalu mengkonsumsi produk lokal. Yang impor-impor, ditinggalin, deh! Atau buat kamu yang gabut di rumah aja, coba, deh, buka usaha kuliner biar bisa ikut ningkatin penjualan bahan pangan hasil produksi petani kita. Supaya tingkat kesejahteraan mereka nggak semakin menurun di masa pandemi ini.   

Meski keadaan dan kondisi mereka semakin kritis, tapi mereka nggak menyerah. Mengingat potensi sektor pertanian sebagai penyangga perekonomian nasional di masa pandemi, para petani kita tetap harus berproduksi untuk menyediakan kebutuhan pangan penduduk. Kita, nih, yang masih baik-baik saja terutama dari segi finansial, harusnya bersyukur. Coba tetap beli bahan pangan lokal hasil petani kita. Sayur, buah, dan bahan pokok lainnya jangan pilih yang impor, pilih yang buatan Indonesia, ya! Terus dukung petani kita bersama CROWDE

Sumber Artikel : https://blog.crowde.co/hari-tani-nasional-di-depan-mata-gimana-nasib-petani-saat-pandemi/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *