Potensi Kampung Yang di surganya papua raja ampat

Wisata Pulau Seribu – Siapa sangka, Kampung Manyaifun, sebuah kampung terpencil di Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, mempunyai potensi alam yang menakjubkan. Kecuali mempunyai panorama alam yang menawan, keanekaragaman hayati lautnya bahkan tidak tertandingi. Di sana, kita bisa menemukan ikan Pari Manta berenang di perairan. ppo

Ikan Pari Manta adalah ikan menawan yang hidup di perairan tropis. Binatang ini tenar ramah dan tak jarang berenang bersama para penyelam. Ikan ini cukup susah untuk ditemukan, namun bisa kita peroleh di Kampung Manyaifun.

Salah satu kekayaan kampung Manyaifun merupakan hutan pohon sagu. Pohon sagu bisa dimanfaatkan untuk bermacam keperluan seperti bahan makanan pokok, bahan baku dinding dan atap pembangunan homestay, pembuatan tikar atau senat, dan rajutan daun sagu.

Kunjungi Juga : https://archipelagotraveller.com/outbound-puncak/

Sayang, potensi yang ada di sana belum dikelola dengan optimal. Masyarakat di sana belum mempunyai pengetahuan untuk memaksimalkan potensi daerahnya. Meski sektor pariwisata terlebih ekowisata bisa ditonjolkan untuk menambah penghasilan masyarakat kampung. Kecuali itu, jalan masuk yang cukup susah dan kawasan yang terpencil membikin Kampung Manyaifun belum menerima perhatian khusus.

Kampung yang berderet sepanjang bibir pantai ini cuma mempunyai 80 kepala keluarga. Mata pencaharian utama kepala keluarga atau awam disebut mengkudu merupakan menjadi nelayan. Meskipun mama-mama atau mace di sana menolong mencari uang dengan membikin senat.

Mama Aisyah, pemimpin kategori mama-mama pengrajin senat menerangkan, produksi ayaman tak menentu. Kecuali untuk pemakaian pribadi, produksi ayaman jumlah besar sungguh-sungguh jarang. Mama-mama cuma akan memproduksi ayaman seandainya ada permintaan. “Takut tak laku apabila bikin banyak dan menitipkan di pasar. Di sini tak ada pasar, jadi untuk mengirim senat ke pasar butuh waktu tiga jam dan bensin yang mahal,” ujarnya.

Kecuali itu, sebagian keluarga mempunyai usaha homestay. Ada delapan keluarga yang mempunyai usaha ini. Sayang, pengelolaan homestay bahkan belum pantas standar baku referensi tata kelola homestay dan taktik promosinya bahkan tebilang minim. Homestay masyarakat lokal kurang melihat standar kebersihan, kenyamanan, dan keamanan. – https://archipelagotraveller.com/corporate-outing/

Meski homestay adalah salah satu fasilitas yang diperlukan oleh para pelancong supaya nyaman berkunjung ke Kampung Manyaifun. Belum ada pula kolaborasi antara masyarakat dengan usaha homestay meskipun kolaborasi ini penting untuk menjual kerajinannya. “Masyarakat di sini belum merasa “mempunyai” homestay.

Untuk mengoptimalkan potensi-potensi tempat Kampung Manyaifun, Yayasan EcoNusa berprofesi sama dengan asosiasi Perjampat untuk memberikan dukungan dan pengetahuan terhadap masyarakat di Kampung Manyaifun berupa pelatihan. Proyek ini ditunjang oleh salah satu asosiasi homestay yang pernah menerima penghargaan untuk pengelolaan homestay berbasis masyarakat adat di komodo liveaboard.

Sayangnya, sesudah pelatihan, masyarakat masih belum mengerjakan upaya peningkatan standar homestay. Semisal, mereka sudah diberi pelatihan berkaitan pemisahaan dan pengelolaan sampah organik dan anorganik, pelestarian kampung melewati aksi pembersihan lingkungan mingguan (Jumat bersih), dan penyediaan daerah sampah akhir di kampung. Tetapi yang baru berjalan cuma aktivitas Jumat bersih. Saat ditanya kenapa belum memakai fasilitas yang dijadikan, jawabannya sebab berdasarkan mereka belum ada sampah yang sepatutnya dibuang ke daerah pembuangan akhir. Jadilah, sampah-sampah menumpuk di pinggir rumah mereka. Kurangnya kesadaran masyarakat seputar kebersihan lingkungan inilah yang masih menjadi PR.

Berdasarkan Kris, ini merupakan kali pertama mereka menjalankan program homestay yang melibatkan masyarakat. Lazimnya mereka berprofesi sama dengan pengusaha. Antusias masyarakat menerima pelatihan cukup tinggi. Masyarakat merasa gembira dengan adanya program ini.

“Perbedaannya sungguh-sungguh terang, teladan kecilnya saja saat kami datang, masyarakat kami meminta untuk berkumpul mereka segera motivasi datang. Jika pengusaha sulit diperintah kumpul. Masyarakat gembira adanya program ini, sebab mereka memperoleh insight baru,” jelasnya.

Pelatihan berjalan dalam kurung waktu empat bulan. Pelatihan yang dilakukan pada permulaan tahun 2019 ini memang belum memberikan hasil yang optimal untuk masyarakat. Meski hasil yang di temukan belum optimal, pelatihan ini sudah memberikan perubahan terhadap masyarakat.

Perubahan yang ada semisal adanya peningkatan penghasilan bagi kategori pengrajin, adanya program jumat bersih untuk menjaga kebersihan lingkungan, adanya penanaman pohon sagu rutin untuk menjaga kelestariannya, dan lainnya. Sehingga, sedikit demi sedikit masyarakat bisa memanfaat potensi daerahnya dengan lebih bagus di https://archipelagotraveller.com/raja-ampat/ .